21 Mei 2009

Model Vespa taun 40's - 50's

Mode Vespa taun 40's - 50's

Sebenarnya saya pribadi tidak terlalu tahu atau bahkan tidak tahu sama sekali tentang Vespa keluaran tahun lawas. Iseng-iseng browsing, saya menemukan beberapa data dan informasi. Saya sadur dari berbagai sumber, berikut informasi yang saya dapatkan, semoga berguna dan jika salah mohon diluruskan, jika kurang mohon ditambahkan. Otreh my bro…Save our Vespa…KICK!
Vespa 98 / 1946-1947
Photobucket

Tahun :1946 / 1947
VIN :V98
Nomor :01 / 18079
Produksi :18079 unit

Fork depan masih mengadopsi roda pesawat terbang dan berada di sebelah kiri ban depan (sekarang di sebelah kanan ban). Dengan kapasitas mesin 98 cc maksimal kecepatan hanya 75 km/jam, konsumsi bahan bakar 3 : 100 atau 3 liter buat 100 km, irit kan? Vespa 98 ini di produksi tahun 1946, sebagai cikal bakal model Vespa yang melegenda hingga sekarang. Pertama beredar, V98 sangat diminati oleh masyarakat karena harganya yang murah serta keamanan dan kenyamanannya. Di tahun berikutnya (1947) V98 di produksi dengan jumlah unit yang sama (18079 unit), dan hasilnya laris manis di pasaran.

Vespa 125 - 1948
Photobucket
Tahun :1948 / 1950
VIN :V1T - V15T
Nomor : 01 / 104096
Produksi : 104096 unit

Vespa 125 ini dibuat berdasarkan pendahulunya V98, yang terlihat berbeda adalah kapasitas mesin yang lebih besar yaitu 125 cc dan shock depan berada di sebelah kanan. Bentuk body, stang dan head lamp masih mirip dengan V98. Melihat antusiasme masyarakat yang besar pada Vespa, V125 diproduksi hingga 104096 unit selama periode 1948 hingga 1950..
Vespa 125 Hoffmann - 1950
Photobucket

Vespa Hoffmann diproduksi antara tahu 1950 - 1954 di Jerman. Ini semua diawali saat pada tahu 1949, Piaggio setuju memberikan lisensi kepada Hoffmann untuk memproduksi dan memperdagangkan. Vespa 125 Hoffmann tidak hanya di perdagangkan di Jerman saja, tapi juga di Inggris dan Perancis. D Inggris di kenal dengan nama Vespa Douglass karena perjualannya di bawah lisensi Douglass dan di Perancis di bawah lisensi PACMA.

Vespa Gembel .. kenapa enggak ....

Perlawanan Vespa Gembel ( rat scooter )

Bagaimanakah cara kaum jelata mengekspresikan diri? Barangkali Anda bisa melihatnya di komunitas penggemar vespa gembel. Kalau kebanyakan orang suka pamer kemewahan, mereka justru pamer kegembelan. Inilah antitesis dari parade kemewahan di sekitar kita.

Komunitas ini mudah dikenali. Mereka umumnya mengendarai vespa rombeng tahun 1970-an atau 1980-an yang dimodifikasi sesuka hati hingga bentuknya aneh-aneh. Ada yang mengganti setang vespanya dengan setang tinggi menjulang. Mereka menyebut model ini sebagai vespa setang monyet karena pengendaranya akan terlihat seperti monyet yang sedang menggelayut di batang pohon.

Ada yang menambahi gerobak di samping vespanya. Ada pula yang menceperkan dan memanjangkan badan vespa hingga bermeter-meter. Yang begini mereka sebut vespa long.

Ciri lain, vespa model begini dekilnya minta ampun. Maklum, penggemarnya sengaja tidak mencucinya berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Tampilan vespa kian kumuh karena penggemarnya kerap menempelkan aneka ”sampah” di vespa mereka, mulai dari karung goni, gombal, drum bekas, galon air, sandal jepit, CD, selongsong mortir, botol infus, tengkorak sapi, hingga (maaf) celana dalam.

”Pokoknya makin gembel makin keren. Itu berarti vespanya sering dipakai untuk keliling daerah,” ujar Muhammad Syahrul Permana alias Yayung (21), anggota Maskot, sebuah klub vespa di Pamulang, Tangerang, Banten.

Dia memiliki sebuah vespa yang dimodifikasi hingga panjangnya mencapai 5,6 meter. Saking panjangnya, kalau mau belok di tikungan tajam, vespa yang dibalut karung goni itu harus digotong beramai-ramai.

Tidak hanya rupa vespanya, tampilan sebagian penunggangnya pun sama acak-acakannya. Lihatlah Abi alias Brekele (22), anggota Banten Independent Touring Scooter (BITS). Rambutnya kribo tak karuan seperti sayuran brokoli. Tengok juga Arief (23) dari Scooter Tanpa Nama (STN) Ciledug atau Kimoy dari Maskot yang berambut gimbal dan berpakaian lusuh.

Kebebasan ...

Mengapa mereka mau menggembel-gembelkan diri? Ternyata ini ada kaitannya dengan faham kebebasan yang mereka anut. Mereka ingin merombak pandangan orang yang sering menilai orang lain dari penampilan luarnya.

”Kami ingin buktikan bahwa orang yang berpenampilan gembel hatinya belum tentu jahat,” tutur Yoyok, anggota BITS. Yoyok tahu persis bagaimana sakitnya disepelekan hanya karena penampilannya. Ketika kuliah dulu, dia kerap ditolak orangtua pacarnya karena rambutnya gondrong, suka memakai jaket belel, dan celana yang sobek di sana-sini.

Dengan vespa gembel, komunitas ini bisa dengan bebas mengekspresikan diri. ”Kalau orang kaya bisa pamer kemewahan, kita bisa pamer kegembelan,” ujar Aditiya Lukmansyah alias Ableh (24), Ketua Maskot, sambil tersenyum.

Dia mengaku senang sekali jika sedang tur berpapasan dengan rombongan penggemar motor mewah. ”Ternyata orang di pinggir jalan lebih banyak yang ngeliatin kita daripada ngeliatin kelompok motor mewah. Kalau enggak pake vespa gembel, mana ada yang mau memerhatikan kita,” ujar Ableh.

Kebanyakan penggemar vespa gembel memang berasal dari kelompok menengah ke bawah. Mereka umumnya pengangguran, mahasiswa, atau buruh serabutan. Meski ada pula yang berprofesi sebagai seniman, guru, atau pemilik bengkel.

Di dunia nyata, kelas ini sering kali dipandang sebelah mata. Mereka kerap diabaikan dan dipinggirkan. Nah, lewat vespa gembel mereka menciptakan ruang ekspresi sendiri lantas merebut perhatian orang lain.

Lewat kegembelannya, mereka menyelipkan semacam semangat demokrasi di jalanan. Bagi mereka, jalanan yang sering digunakan orang-orang kaya untuk memamerkan mobil dan motor mewah, juga harus bisa menjadi ruang bagi rakyat jelata berkantong cekak.

Lantas bagaimana kita memandang komunitas semacam ini? Ketika kita melihat komunitas ini, sebenarnya kita sedang melihat sebentuk perlawanan rakyat jelata kepada pihak-pihak berkuasa yang gemar memuja kemewahan. Kegembelan mereka adalah antitesis dari parade kemewahan di sekitar kita.

Tidak heran, jika komunitas ini tumbuh subur di hampir semua daerah pinggir kota, seperti Ciledug, Pamulang, Bekasi, Depok, Subang, Lampung, dan Turen (Malang). Mereka menandai keberadaannya antara lain lewat kegiatan nongkrong setiap minggu.

Komunitas vespa di kawasan Ciputat dan Pamulang biasanya nongkrong di seberang Hero Pamulang tiap malam minggu dan di depan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah tiap Rabu malam. Komunitas vespa Ciledug biasa nongkrong di depan perumahan Puri Beta dan Alfa Bintaro tiap malam minggu.

Mereka membentuk jejaring yang kuat hingga ke kota-kota lain di luar Pulau Jawa. Mereka saling mengunjungi, saling membantu, bahkan saling mendoakan.

Ada semacam aturan tidak tertulis bahwa sebuah klub harus menjamu anggota klub dari kota lain yang mampir ke markas mereka. Mereka menyediakan makanan, tempat menginap sekadarnya, bahkan kadang menyumbang uang bensin.
Tamu-tamu itu sering kali tidak hanya menginap satu-dua hari, tetapi berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan ada yang menetap hingga satu tahun. Dari sini, persaudaraan antarkomunitas vespa gembel terbentuk dan berkembang luas

7 Mei 2009

Biang keributaN bukanlah Supporter, tapi WASIT !!!

Thursday, 30 April 2009
logo Jak mania
Image Kekhawatiran seperti yang dikumandangkan POLRI bahwa supporter sepakbola adalah biang kerusuhan sangat bertolak belakang. ingin bukti?

Pertandingan Indonesia Super League (ISL) 2009 antara Arema VS Persija di stadion Kanjuruhan Malang (26/3) kemarin berlangsung panas, selain karena kedua klub adalah klub besar di tanah air tetapi juga karena nuansa rivalitas yang cukup kental. Puluhan ribu Aremania memadati stadion, begitupun dengan ratusan Jakmania yang hadir di kota Malang. Saya sendiri menjadi yang kurang beruntung, karena tak bisa menyaksikan langsung partai ini.

ujur sejak awal saya sudah sedikit khawatir begitu mengetahui bahwa wasit yang akan memimpin pertandingan Arema VS Persija ini adalah Viator Ambariita yang berasal dari Bandung, kenapa?semua Jakmania dan sebagian penikmat bola negeri ini pun paham bahwa rivalitas antara Jakarta dan Bandung sedemikian peliknya. Kekhawatiran yang memang selama 90 menit pertandingan ssedikit demi sedikit terbukti.

Dalam catatan saya ada beberapa keputusan wasit yang amat mempengaruhi jalannya pertandingan dan bahkan sangat kontroversial, berikut beberapa diantaranya :

1. Dimulai dari kartu kuning kedua (kartu merah) untuk Pierre Njanka di menit ke 16 babak ke 1. Kenapa kontroversial?karena sebelum wasit meniupkan peluit tanda Njanka melakukan pelanggaran terhadap pemain Arema sejujurnya disitu telah terjadi pelanggaran terlebih dahulu oleh pemain Arema, yaitu Handsball yang dilakukan oleh pemain Arema ketika berebut bola dengan Njanka. Disini wasit mencoba untuk tegas, tapi jujur terlalu ternburu-buru dan tidak pada tempatnya.

2. Handsball oleh pemain Arema di kotak pinalti Arema yang seharusnya menjadi pinalti untuk Persija, hanya dihadiahkan tendangan bebas untuk Persija. Kenapa wasit tak menanyakan kepada hakim garis terlebih dulu?

3. Dari beberapa kejadian dalam pertandingan ini tentunya kita sepakat yang paling aneh bin controversial adalah disahkanya gol kedua Arema yang dicetak oleh Brown. Baru kali ini saya melihat sosok pelatih Persija Danurwindo emosi dan marah, mungkin baru kali ini Om Danur protes ke wasit. Wajar karena memang insiden ini berawal dari cideranya Ponaryo yang membuat bola dibuang dan pertandingan terhenti, masalah muncul manakala bola yang memang harusnya menjadi bola Fair Play untuk Persija ternyata “dimanfaatkan” secara lick oleh Brown. Bola fair play itu seharusnya baru play on lagi ketika pemain lawan sudah memegang kembali bola. Tapi dalam kasus ini setelah lemparan kedalam, pemain Persija belum sedikitpun memegang bola.

4. Kartu merah kedua dalam pertandingan ini untuk Greg Nwokolo memang sangat tidak jelas bagi saya untuk menilai, karena saya hanya meyaksikan melalui televise, penasaran sayapun mencoba menghubungi beberapa rekan yang menyaksikan langsung di stadion Kanjuruhan, tapi mereka pun bilang bahwa kartu merah itu tidak jelas. Saya semakin yakin bahwa ini anaeh, manakala di layar TV melihat ekspresi dari Greg yang seolah bingung tentang apa yang dilakukan olehnya sehingga kartu merah itu keluar dari saku wasit sesaat ketika Persija menyamakan kedudukan 2-2 oleh Fabio Lopes.

Persija sudah punya jiwa ksatria dengan tidak Walk Out (WO), tapi akankah PSSI diam saja dengan “kelakuan” wasit seperti ini ? jika ingin membentuk SDM yang professional dan berkualitas seperti yang dicanangkan PSSI beberapa hari yang lalu, tentunya anda tidak akan diam kan?

Salut untuk seluruh punggawa tim Persija yang tetap dengan jiwa ksatria memutuskan untuk melanjutkan pertandingan meskipun “gila-gilaan”dikerjai wasitnya. Tim lain yang dikerjai oleh wasit seperti itu belum tentu memiliki jiwa ksatria yang lebih banyak memilih WO (Walk Out) dari pertandingan, sekali lagi saya salut untuk Persija. Salut juga untuk kedua kelompok supporter (Aremania-Jakmania) yang tetap tenang dan saling menghormati menyikapi jalannya pertandingan. Semoga kita mempertahankan kalau kita (Arema-Jakmania) adalah brotherhood selamanya.

21 Apr 2009

Vesparty # 2

Photobucket

Golden fish presents:
VESPARTY #2
In conjunction with Vespa Club Gathering
@ CENTRO, 5 MAY 09

Feat :
Dj Verni (Human Angel)
Dj Ernest
Mc by: DarXtar (Golden Fish/Indodancemusic)
Centro Resident’s: Ari nagan, Audi, & D2N

Host:
SOG Jakarta Barat (Ketua : Bang Yos)
SOG Jakarta Pusat (Ketua : Panpan)
SOG Jakarta Timur (Ketua : Murry)
SOG Jakarta Utara (Ketua : Toto)
SOG Jakarta Selatan (Ketua : Tito)
Bp. Hadi Sukrisno (Penasehat S.O.G)
Bp. A. Rahman (Ketua Umum IVI)
Iwan Nizwan (Ketua Pengprov IVI DKI Jakarta)
Bp. Ronny Motor (I.V.I)
Bp. H. Nonot Marsono (Dewan Pembina IVI)
Bp. H. Maman Banjar (VETA)
Bp. Toto (Rumah Vespa)
Bp. Memet PCI (Piaggio Club Indonesia)
Bp. Dito Vio (Vespa Indonesia Online)
Bp. Tri (Penasehat PCI)
Jujuk Margono (Indika)
Oka (lupus)
Aciel S.O.G Indonesia
Lambretta Club Indonesia

More info :
Okie (Centro The Club Jakarta) : 0818 0341 7647
Aciel S.O.G : 0819 05252522 / 021 9222 0120
Iwan Nizwan (I.V.I) : 0813 8261 5599 / 021 91691 378

15 Apr 2009

Announcement

Greetings,
Assalamualaikum Wr. Wb.
We are pleased to inform you that on Sunday, 12th April 2009, Scooter Owners Group - Indonesia, Branch of South Jakarta (SOG Indonesia - Cabang Jakarta Selatan) has been launched at National Museum area (MONAS) and the holy ceremony day will be announced and managed by SOG Indonesia, Pusat (Head Office).
For further information, please feel free to contact us on the below numbers.
All support to us is highly appreciated. Thank you.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Warmest regards,
Ir. Venito Bastian / Tito
(Candidate) Chief of SOG Indonesia Branch of South Jakarta
Contact address:
Jl. Tebet Timur Dalam 2 No. 2
Jakarta Selatan
Indonesia
Telp. 021-70615361 / 08129748002
PIC: Hendra (Secretary)
PIC: Petir chonnel ( Tatib )
Base Camp:
Restaurant of Mie Jogja, Tebet Barat.

posted by : bang Toyib

13 Apr 2009

tanggal keramat SOG Indonesia cabang jakarta selatan (prospect)

.. sabtu 11 april 2009 Monas ..
Setelah melalui perjalanan panjang dan agak rumit, akhirnya saya bersama teman-teman berhasil mengumpulkan anggota Scooter Owners Group sejakarta pada malam minggu di MONAS jam 10 mlm s/d selesai dalam rangka memperkenalkan diri anggota SOG Indonesia cabang jakarta selatan yg insya Allah akan dibuka. adapun Anggota-anggota Scooter Owners Group Indonesia yang hadir pada malam itu diantaranya adalah :
SOG Indonesia cabang jakarta pusat (ketua Pan-pan)
SOG Indonesia cabang jakarta barat (ketua Pak Yos)
SOG Indonesia cabang jakarta timur (ketua Buluk)
SOG Indonesia cabang jakarta utara (ketua Toto)
dan ada juga perwakilan dari SOG Bandung yg datang pada mlm itu di Monas yaitu saudara Berry dan temannya.
Acara dibuka oleh bro Pan-pan dimana beliau menjabat sebagai ketua SOG Indonesia cabang jakarta pusat..acara berlangsung dengan damai walaupun ada beberapa perdebatan-perdebatan yg sangat sengit antara bro Toto dengan yg lainnya akan tetapi diantara anggota-anggota SOG yg hadir pada malam itu tidak ada rasa dendam ataupun marah.
Acara ini di hadiri kurang lebih 50 orang termasuk saya dan teman-teman di antaranya ( Mas Kris,bang Ade,bro Pan-pan,bro Buluk,bro Toto,bro Acil,bro petir,bro Berry,bro Tito,bro Hendra,bro Imaw,bro Nael,bro Debleng,bro Penyu,bro Nino,dan masih banyak lagi yg tidak bisa saya sebutkan satu persatu..maaf !! )
Kesimpulan didalam acara ini adalah dimana pada mlm itu juga tepat jam 12 lewat tengah mlm telah di sepakati hari keramat untuk SOG Indonesia cabang jakarta selatan prospect yaitu tanggal 12 APRIL 2009.
Pemberian tanggal keramat ini disaksikan kurang lebih dari 50 orang anggota SOG sejakarta yg hadir pada mlm itu di MONAS.
saya mewakili teman-teman dari jakarta selatan mengucapkan terima kasih yg sebesar-besarnya atas dukungan dan masukan-masukan yg telah diberikan kepada kami. Smoga saja apa yg kita inginkan cepat atau lambat SOG Indonesia cabang jakarta selatan bisa berdiri dan melengkapi jakarta (timur,utara,pusat,barat,dan selatan). memang Pro dan Kontra sudah pasti ada, akan tetapi itu semua tidak akan mengurangi semangat saya dkk untuk mengibarkan bendera SOG seperti yg lainnya.
Thanks to : buat bang Ade 008,buat mas Kris,buat bang Pan-pan,buat pak Yos atas nasehat & masukan-masukan yg telah di berikan kepada saya dkk dan terima kasih juga buat rekan-rekan anggota SOG yg hadir di Monas tanpa terkecuali...Thx 4 all.
" bersama SOG persaudaraan serasa tanpa batas .. Be Safe , Be Mode , Be Adventure "

penulis : petir chonnel

9 Apr 2009

:: Perjalanan Reggae di Indonesia ::

Reggae, seperti dikatakan etnomusikolog Jacob Edgar, merupakan jenis musik yang mudah beradaptasi dengan beragam lingkungan kultural.

Musik Reggae sebetulnya sudah lama digaungkan di Indonesia sekitar awal tahun 1980, dengan munculnya band Reggae Abreso dalam acara Reggae Night di Taman Impian Jaya Ancol.

Pada tahun 1986 band yang seluruhnya personil pemuda asal Papua ini pernah performing di Christmas Island selama tiga bulan yang diprakarsai oleh Yorries Raweyai. Pada tahun 1984 Abreso pernah rekaman lagu-lagu Reggae.

Selain itu, masih di era tahun 1980-an ada lagu “Dansa Reggae” yang dinyanyikan oleh Nola Tilaar iringan musik oleh Willie Teuguh.

Lagu ciptaan Melky Goeslaw itu adalah salah satu lagu Reggae yang mengajak masyarakat dari berbagai latar belakang kultural bisa ramai-ramai menikmati reggae. Dengar liriknya: "Orang Jawa bilang, ’monggo dansa reggae’!"




Pada tahun 1980 "Abreso"

Tahun 1986 “Black Company”.

Tahun 1988 "Air Mood"

Akhir tahun 1989 "Asian Roots".

Tahun 1989 "Rastafara "

Tahun 1989 "Asian Rasta"

Tahun 1990 "Imanez"

Tahun 1993 "Asian Force"

Tahun 1993 "Jamming"

Tahun 1994 "Kingky Reggae"

Tahun 1997 "Batavia Reggae"

Tahun 1997 "Sireum Ateul"

Tahun 1998 "Souljah"

Tahun 1999 "Matahari"

Tahun 2000 "Marapu"

Tahun 2001 "Gangstarasta"

Tahun 2002 "Flobaja"

Tahun 2002 "DeJenks"

Tahun 2003 "Ras Muhamad"

Tahun 2003 "Green Savanna "

Tahun 2004 "My Reggae"

Tahun 2004 "Mozambique"

Tahun 2004 "Little Birds"

Tahun 2004 "Primitif"

Tahun 2004 "Peron 1"

Tahun 2005 "Taffgong"

Tahun 2005 "Pasukan Lima Jari"

Tahun 2005 "Masamune"

Tahun 2005 "Secret Place"

Tahun 2005 "Lokal Ambience"

Tahun 2005 "The Red Lock "

Tahun 2006 "Soya"

Tahun 2006 "Bakscherrys"

Tahun 2006 "Soundxinor's"

Tahun 2006 "PMS & The People"

Tahun 2006 "Jamaican Soul"

Tahun 2007 "Teh Manis"

Tahun 2007 "D'Lobbies"

Tahun 2007 "The Babylonians"

Tahun 2007 "Joe DeWine "

Tahun 2007 "Pa'Ce Rasta"

Ada beberapa musisi atau band Reggae yang sedang kami telusuri untuk dapat wawancara agar profil band atau perjalanan musik Reggae lebih lengkap lagi.

:: Sejarah Musik REGGAE ::

Musik Reggae

Tahun 1968 banyak disebut sebagai tahun kelahiran musik reggae. Sebenarnya tidak ada kejadian khusus yang menjadi penanda awal muasalnya, kecuali peralihan selera musik masyarakat Jamaika dari Ska dan Rocsteady, yang sempat populer di kalangan muda pada paruh awal hingga akhir tahun 1960-an, pada irama musik baru yang bertempo lebih lambat : reggae. Boleh jadi hingar bingar dan tempo cepat Ska dan Rocksteady kurang mengena dengan kondisi sosial dan ekonomi di Jamaika yang sedang penuh tekanan.

Kata “reggae” diduga berasal dari pengucapan dalam logat Afrika dari kata “ragged” (gerak kagok–seperti hentak badan pada orang yang menari dengan iringan musik ska atau reggae). Irama musik reggae sendiri dipengaruhi elemen musik R&B yang lahir di New Orleans, Soul, Rock, ritmik Afro-Caribean (Calypso, Merengue, Rhumba) dan musik rakyat Jamaika yang disebut Mento, yang kaya dengan irama Afrika. Irama musik yang banyak dianggap menjadi pendahulu reggae adalah Ska dan Rocksteady, bentuk interpretasi musikal R&B yang berkembang di Jamaika yang sarat dengan pengaruh musik Afro-Amerika. Secara teknis dan musikal banyak eksplorasi yang dilakukan musisi Ska, diantaranya cara mengocok gitar secara terbalik (up-strokes) , memberi tekanan nada pada nada lemah (syncopated) dan ketukan drum multi-ritmik yang kompleks.

Teknik para musisi Ska dan Rocsteady dalam memainkan alat musik, banyak ditirukan oleh musisi reggae. Namun tempo musiknya jauh lebih lambat dengan dentum bas dan rhythm guitar lebih menonjol. Karakter vokal biasanya berat dengan pola lagu seperti pepujian (chant), yang dipengaruhi pula irama tetabuhan, cara menyanyi dan mistik dari Rastafari. Tempo musik yang lebih lambat, pada saatnya mendukung penyampaian pesan melalui lirik lagu yang terkait dengan tradisi religi Rastafari dan permasalahan sosial politik humanistik dan universal.

Album “Catch A Fire” (1972) yang diluncurkan Bob Marley and The Wailers dengan cepat melambungkan reggae hingga ke luar Jamaika. Kepopuleran reggae di Amerika Serikat ditunjang pula oleh film The Harder They Come (1973) dan dimainkannya irama reggae oleh para pemusik kulit putih seperti Eric Clapton, Paul Simon, Lee ‘Scratch’ Perry dan UB40. Irama reggae pun kemudian mempengaruhi aliran-aliran musik pada dekade setelahnya, sebut saja varian reggae hip hop, reggae rock, blues, dan sebagainya.

Jamaika

Akar musikal reggae terkait erat dengan tanah yang melahirkannya: Jamaika. Saat ditemukan oleh Columbus pada abad ke-15, Jamaika adalah sebuah pulau yang dihuni oleh suku Indian Arawak. Nama Jamaika sendiri berasal dari kosa kata Arawak “xaymaca” yang berarti “pulau hutan dan air”. Kolonialisme Spanyol dan Inggris pada abad ke-16 memunahkan suku Arawak, yang kemudian digantikan oleh ribuan budak belian berkulit hitam dari daratan Afrika. Budak-budak tersebut dipekerjakan pada industri gula dan perkebunan yang bertebaran di sana. Sejarah kelam penindasan antar manusia pun dimulai dan berlangsung hingga lebih dari dua abad. Baru pada tahun 1838 praktek perbudakan dihapus, yang diikuti pula dengan melesunya perdagangan gula dunia.

Di tengah kerja berat dan ancaman penindasan, kaum budak Afrika memelihara keterikatan pada tanah kelahiran mereka dengan mempertahankan tradisi. Mereka mengisahkan kehidupan di Afrika dengan nyanyian (chant) dan bebunyian (drumming) sederhana. Interaksi dengan kaum majikan yang berasal dari Eropa pun membekaskan produk silang budaya yang akhirnya menjadi tradisi folk asli Jamaika. Bila komunitas kulit hitam di Amerika atau Eropa dengan cepat luntur identitas Afrika mereka, sebaliknya komunitas kulit hitam Jamaika masih merasakan kedekatan dengan tanah leluhur.

Musik reggae sendiri pada awalnya lahir dari jalanan Getho (perkampungan kaum rastafaria) di Kingson ibu kota Jamaika. Inilah yang menyebabkan gaya rambut gimbal menghiasi para musisi reggae awal dan lirik-lirik lagu reggae sarat dengan muatan ajaran rastafari yakni kebebasan, perdamaian, dan keindahan alam, serta gaya hidup bohemian. Masuknya reggae sebagai salah satu unsur musik dunia yang juga mempengaruhi banyak musisi dunia lainnya, otomatis mengakibatkan aliran musik satu ini menjadi barang konsumsi publik dunia. Maka, gaya rambut gimbal atau dreadlock serta lirik-lirik ‘rasta’ dalam lagunya pun menjadi konsumsi publik. Dalam kata lain, dreadlock dan ajaran rasta telah menjadi produksi pop, menjadi budaya pop, seiring berkembangnya musik reggae sebagai sebuah musik pop.

Musik reggae, sebutan rastaman, telah menjadi satu bentuk subkultur baru di negeri ini, di mana dengannya anak muda menentukan dan menggolongkan dirinya. Di sini, musik reggae menjadi penting sebagai sebuah selera, dan rastaman menjadi sebuah identitas komunal kelompok social tertentu. Tinggal bagaimana para pengamat social dan juga para anggota komunitas itu memahami diri dan kultur yang dipilihnya, agar tidak terjadi penafsiran keliru yang berbahaya bagi mereka. Penggunaan ganja adalah salah satu contohnya, di mana reggae tidak identik dengan ganja serta rastafarianisme pun bukanlah sebuah komunitas para penghisap ganja.

Sebuah lagu dari “Peter Tosh” (nama aslinya Peter McIntosh), pentolan The Wairles yang akhirnya bersolo karier. Dalam lagu ini, Peter Tosh menyatakan dukungannya dan tuntutannya untuk melegalkan ganja. Karena lagu ini, ia sempat ditangkap dan disiksa polisi Jamaika.

Menurut sejarah Jamaica, budak yang membawa drum dari Africa disebut “Burru” yang jadi bagian aransemen lagu yang disebut “talking drums” (drum yang bicara) yang asli dari Africa Barat. “Jonkanoo” adalah musik budaya campuran Afrika, Eropa dan Jamaika yang terdiri dari permainan drum, rattle (alat musik berderik) dan conch tiup. Acara ini muncul saat natal dilengkapi penari topeng. Jonkanoos pada awalnya adalah tarian para petani, yang belakangan baru disadari bahwa sebenarnya mereka berkomunikasi dengan drum dan conch itu. Tahun berikutnya, Calypso dari Trinidad & Tobago datang membawa Samba yang berasal dari Amerika Tengah dan diperkenalkan ke orang - orang Jamaika untuk membentuk sebuah campuran baru yang disebut Mento. Mento sendiri adalah musik sederhana dengan lirik lucu diiringi gitar, banjo, tambourine, shaker, scraper dan rumba atau kotak bass. Bentuk ini kemudian populer pada tahun 20 dan 30an dan merupakan bentuk musik Jamaika pertama yang menarik perhatian seluruh pulaunya. Saat ini Mento masih bisa dinikmati sajian turisme. SKA yang sudah muncul pada tahun 40 - 50an sebenarnya disebutkan oleh History of Jamaican Music, dipengaruhi oleh Swing, Rythym & Blues dari Amrik. SKA sebenarnya adalah suara big band dengan aransemen horn (alat tiup), piano, dan ketukan cepat “bop”. Ska kemudian dengan mudah beralih dan menghasilkan bentuk tarian “skankin” pad awal 60an. Bintang Jamaica awal antara lain Byron Lee and the Dragonaires yang dibentuk pada 1956 yang kemudian dianggap sebagai pencipta “ska”. Perkembangan Ska yang kemudian melambatkan temponya pada pertengahan 60an memunculkan “Rock Steady” yang punta tune bass berat dan dipopulerkan oleh Leroy Sibbles dari group Heptones dan menjadi musik dance Jamaika pertama di 60an.

“Reggae & Rasta”

Bob Marley tentunya adalah bimtang musik “dunia ketiga” pertama yang jadi penyanyi group Bob Marley & The Wailers dan berhasil memperkenalkan reggae lebih universal. Meskipun demikian, reggae dianggap banyak orang sebagai peninggalan King of Reggae Music, Hon. Robert Nesta Marley. Ditambah lagi dengan hadirnya “The Harder they Come” pada tahun 1973, Reggae tambah dikenal banyak orang. Meninggalnya Bob Marley kemudian memang membawa kesedihan besar buat dunia, namun penerusnya seperti Freddie McGregor, Dennis Brown, Garnett Silk, Marcia Fiffths dan Rita Marley serta beberapa kerabat keluarga Marley bermunculan. Rasta adalah jelas pembentuk musik Reggae yang dijadikan senjata oleh Bob Marley untuk menyebarkan Rasta keseluruh dunia. Musik yang luar biasa ini tumbuh dari ska yang menjadi elemen style American R&B dan Carribean. Beberapa pendapat menyatakan juga ada pengaruh : folk music, musik gereja Pocomania, Band jonkanoo, upacara - upacara petani, lagu kerja tanam, dan bentuk mento. Nyahbingi adalah bentuk musik paling alami yang sering dimainkan pada saat pertemuan - pertemuan Rasta, menggunakan 3 drum tangan (bass, funde dan repeater : contoh ada di Mystic Revelation of Rastafari). Akar reggae sendiri selalu menyelami tema penderitaan buruh paksa (ghetto dweller), budak di Babylon, Haile Selassie (semacam manusia dewa) dan harapan kembalinya Afrika. Setelah Jamaica merdeka 1962, buruknya perkembangan pemerintahan dan pergerakan Black Power di US kemudian mendorong bangkitnya Rasta. Berbagai kejadian monumentalpun terjadi seiring perkembangan ini.

“Apa sih Reggae”

Reggae sendiri adalah kombinasi dari iringan tradisional Afrika, Amerika dan Blues serta folk (lagu rakyat) Jamaika. Gaya sintesis ini jelas menunjukkan keaslian Jamaika dan memasukkan ketukan putus - putus tersendiri, strumming gitar ke arah atas, pola vokal yang ‘berkotbah’ dan lirik yang masih seputar tradisi religius Rastafari. Meski banyak keuntungan komersial yang sudah didapat dari reggae, Babylon (Jamaika), pemerintah yang ketat seringkali dianggap membatasi gerak namun bukan aspek politis Rastafarinya. “Reg-ay” bisa dibilang muncul dari anggapan bahwa reggae adalah style musik Jamaika yang berdasar musik soul Amerika namun dengan ritem yang ‘dibalik’ dan jalinan bass yang menonjol. Tema yang diangkat emang sering sekitar Rastafari, protes politik, dan rudie (pahlawan hooligan). Bentuk yang ada sebelumnya (ska & rocksteady) kelihatan lebih kuat pengaruh musik Afrika - Amerika-nya walaupun permainan gitarnya juga mengisi ‘lubang - lubang’ iringan yang kosong serta drum yang kompleks. Di Reggae kontemporer, permainan drum diambil dari ritual Rastafarian yang cenderung mistis dan sakral, karena itu temponya akan lebih kalem dan bertitik berat pada masalah sosial, politik serta pesan manusiawi.

“Tidak asli Jamaika”

Reggae memang adalah musik unik bagi Jamaika, ironisnya akarnya berasal dari New Orleans R&B. Nenek moyang terdekatnya, ska berasal berasal dari New Orleans R&B yang didengar para musisi Jamaika dari siaran radio Amrik lewat radio transistor mereka. Dengan berpedoman pada iringan gitar pas - pasan dan putus - putusadalah interprestasi mereka akan R&B dan mampu jadi populer di tahun 60an. Selanjutnya semasa musim panas yang terik, merekapun kepanasan kalo musti mainin ska plus tarinya, hasilnya lagunya diperlambat dan lahirlah Reggae. Sejak itu, Reggae terbukti bisa jadi sekuat Blues dan memiliki kekuatan interprestasi yang juga bisa meminjam dari Rocksteady (dulu) dan bahkan musik Rock (sekarang). Musik Afrika pada dasarnya ada di kehidupan sehari-hari, baik itu di jalan, bus, tempat umum, tempat kerja ato rumah yang jadi semacam semangat saat kondisi sulit dan mampu memberikan kekuatan dan pesan tersendiri. Hasilnya, Reggae musik bukan cuma memberikan relaksasi, tapi juga membawa pesan cinta, damai, kesatuan dan keseimbangan serta mampu mengendurkan ketegangan.

“It’s Influences”

Saat rekaman Jamaika telah tersebar ke seluruh dunia, sulit rasanya menyebutkan berapa banyak genre musik popular sebesar Reggae selama dua dekade. Hits - hits Reggae bahkan kemudian telah dikuasai oleh bintang Rock asli mulai Eric Clapton sampai Stones hingga Clash dan Fugees. Disamping itu, Reggae juga dianggap banyak mempengaruhi pesona tari dunia tersendiri. Budaya ‘Dancehall’ Jamaika yang menonjol plus sound system megawatt, rekaman yang eksklusif, iringan drum dan bass, dan lantunan rap dengan iringannya telah menjadi budaya tari dan tampilan yang luar biasa.Inovasi Reggae lainnya adalah Dub remix yang sudah diasimilasi menjadi musik populer lainnya lebih luas lagi.



> dari berbagai sumber

:: Warna Umum Vespa Classic ::

Seluruh warna ini hanya dapat dipakai sebagai petunjuk saja, dan tidak dapat di campur. Dalam pemakaiannya harus disesuaikan dengan warna asli dari setiap cat tersebut.
Semoga bermanfaat.
Salam



Mods May Day 2009 SOG Singapore

Photobucket